Senin, 12 Oktober 2009

gak ada judul...

Belakangan ini Medan selalu di landa hujan..seperti hari ini. Aku tertahan di warnet dah hampir 2 jam...Wah bakaln jeblok ini kantong...keheheh. Begini niy nasib pengguna warnet yang setia...Sudah lama pengen pasang internet di rumah..rencananya pake handphone murah meriah yang bisa merangkap jadi modem..tapi belum kesampaian juga.

petir..aku paling takut petir..sama takutnya aku ketika melihat balon. Aneh yah..sama balon kok takut..?Aku takut balonnya meletus tiba-tiba.kehehkek..

Aku tidak suka dengan hari berhujan..(duh bahasanya)kehehe...tidak bisa kemana2,..basah...berlumpur...
tapi..stop mengeluh nunet...coba pikir lagi...pasti ada orang yang diberkahi dengan datangnya hujan...ojek payung, para petani dengan tanamannya,..klo tidak ada hujan..semuanya pasti akan gersang...panas..gerah...trus air minum dapat dari mana?

Stop untuk mengeluh..nunet.Hidup terlalu singkat kalau hanya di isi dengan keluhan, ratapan, tuntutan,...

Klo dipikir-pikir lagi beda antara hidup dan mati itu tipis sekali. Jadi ingat ma bang Anggiat almarhum..senior waktu kuliah, salah satu korban gempa Sumbar.
Bang Anggiat adalah seorang trainer di salah satu perusahaan asuransi. Sebenarnya Bang Anggiat ini Basenya di Medan. Tapi sebagai seorang trainer, beliau selalu bepergian ke berbagai kota. Nah pada hari yang nahas itu, Bang Anggiat sedang memberikan training di Hotel Ambacang, Padang. Bang Anggiat berangkat dari Medan pagi, nah sorenya (rabu 30 september 2009) pada jam 5 sekian-sekian, terjadilah gempa dan Bang Anggiat baru di temukan hari Jumat kalau saya tidak salah...Bayangkan..Pagi berangkat dalam keadaan sehat..trus pulang...sudah dalam keadaan...tidak bisa di kenali lagi. (Bang Anggiat di identifikasi oleh keluarga hanya melalui dompet ma cincin kawinnya).
Terakhir kali bertemu abang itu, pas ulang tahun persekutuan Alumni FE, Dua minggu sebelumnya. Kadang tidak percaya abang itu sudah tidak ada...Tambah sedih kalau mengingat si Aby, yang harus kehilangan papanya pada usia sekitar 1,5 tahun dan Kak Nobi, istrinya, yang harus kehilangan teman hidupnya pada usia yang masih begitu muda...


Kepergian Bang Anggiat mengingatkanku kembali...betapa hidup bukan milik kita. Ia milik sang pencipta kehidupan..Perginya kehidupan seperti datangnya pencuri..tidak bisa di ramalkan.
Siap tidak siap mau..tidak mau...begitu Sang Punya Kehidupan bilang..Sudah cukup..maka bye..bye dunia..kehehehe..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar